Pages

Minggu, 30 September 2018

Perjalanan Nyaman, Pekerjaan Aman Dengan Pundak Fit Ditemani ASUS ZenBook 13 UX331UAL



Aku, Laptop dan Kerja

Jadi jangan bosan ya, aslinya aku mau curhat habis-habisan *tawa evil*
Sejak memutuskan menerima tugas sebagai Ketua KEB pada awal 2015 lalu, bloging tidak bisa lagi dianggap dan dijalani sepintas lalu yang dianggap sebagai hobi semata. Tapi sudah masuk ke tahap “Ya ini adalah kerja atau pekerjaan”. Dan mengharuskan aku secara personal memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan hak dan kewajiban yang diterima.


Dan di sinilah akhirnya laptop menjadi “kekasih” ku yang tak bisa lepas atau ditinggalkan dalam waktu lama. Misal saat bepergian ke luar kota sampai menginap. Meski hanya menginap satu malam selemparan jarak ke Bekasi, aku benar-benar tidak bisa meninggalkan laptop.

Meski terkadang berakhir tidak terpakai, karena ssibuk dengan urusan dan kangen-kangenan dengan keluarga. Tapi pengalaman dan kebiasaan tetap terulang.

Terkadang terlintas pikiran buruk pada diri sendiri “Apa aku terlalu kecanduan bekerja depan laptop? Yang disebabkan oleh kurang pintarnya mengatur waktu saat senggang?”

Ah rasanya tidak juga, aku bahkan merasa sebagai type yang sangat menghargai dan menimati pekerjaanku saat ini. Hanya terkhusus soal membawa laptop ke mana-mana, seperti sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Bahkan terasa ada yang kurang saat tidak membawa laptop saat perjalanan agak jauh.

Tapi kalau diingat lagi, semua berawal dari pengalaman pernah dikejar klien (dari sebuah agnecy) untuk mengirim satu file penting tengah malam. Dan aku yang kebetulan menginap di Jakarta Timur karena ada arisan keluarga, tidak membawa laptop akhirnya menghadapi kekecewaan klien dan sebuah pesan “Kalau berhubungan sama anak agency harus siap sih mbak dengan hal begini”.

Meski merasa “Ya tapi aku kan bukan anak agency”, tapi di sisi lain “Ya tapikan menerima pekerjaan dari agency!!” akhirnya sejak saat itu aku seolah terdikte untuk tidak pernah meninggalkan laptop saat bepergian sampai menginap meski cuma satu malam. Jangankan menginap, sekedar menghadiri seminar tapi melihat rundown seharian full, laptop pun akhirnya "Tak tega hati untuk kutinggalkan".

Banyak yang bilang “Pakai tablet saja”. Aduh, sampai saat ini aku tetap bukan sang ahli yang sanggup bekerja menggunakan tablet. My midle name is typo, layar sentuh benar-benar masih menjadi momok menggelikan bagi jariku yang besar, sehingga menghasilkan typo yang tak pernah berujung *tertawa miris*.

“Beli keyboard khusus tablet”  tetap tidak bisa juga, selemah itu aku bekerja mengutat laporan, proposal, file-file besar, memantau full TL dan pekerjaan yang sedang berjalan hanya bisa kulakukan dengan nyaman dan leluasa di laptop.

Kalau untuk sekedar bersenang-senang social media, BW, cek email dan balas email singkat, sederhana tanpa file besar masih okey sih dengan tablet atau smartphone.

Aku, Laptop dan Perjalanan
Di era serba pamer positif, melihat foto lanscape Indonesia dan belahan dunia lain dari reman-teman travel blogger sudah pasti jiwa kaki lenjeh ingin ke tempat tersebut juga bangkit. Disertai info dan fasilitas kemudahan mendapat tiket murah hingga menyusun intinenary yang membuat nyaman perjalanan, jangan harap jiwa petualang bisa ditahan.

Meski belum bisa ditasbihkan sebagai travel blogger sejati (dan akupun sepertinya tidak sanggup), secara jalan-jalannya setahun masih belum pernah mencapai 10 kali dalam setahun, itupun dua kalinya adalah mudik mudik setiap tahun ke Jawa Timur & Kalimantan Selatan. Yang disempatkan menambah jadwal untuk menjelajah daerah-daerah wisata sekitaran kota tinggal yang belum pernah dikunjungi.

Tapi soal membaca dan mengumpulkan informasi traveling secara detail, aku salah satu juaranya. Terutama informasi tentang perjalanan ala backpaker, perjalanan efisien bareng keluarga, semacam itulah.

Tapi penerapannya? *mulai menertawakan diri sendiri*
Pada kenyataannya dari awal mulai masalah bawaan saja sudah jauh melenceng. Aku bukan tukang pergi yang bisa hanya membawa satu tas ransel dan semua masuk ala makpon Mira Sahid. Okey packing bisa rapi, tapi soal ringkas dan praktis, benar-benar masih jauh dari harapan ala-ala backpaker.

Usia tidak bisa bohong, sudah tidak sanggup membawa banyak beban ransel di pundak. Memaksakan diri pundak dan punggung akan menderita, sampai di tujuan yang ada waktu sudah terpangkas banyak hanya untuk sekedar meluruskan punggung yang pegal. Padahal itinenary harus dilaksanakan, agar mendapat kepuasan batin bisa menikmati tempat tujuan dengan maksimal.

Bayangkan, baju, laptop seberta semua accesoriesnya, puoch make up, power bank, charger dan bawaan lain semua masuk ransel dan dibawa naik kabin. Tubuh dengan lemak yang agak over dan jarang olahraga ini sudah pasti tidak sanggup kakaaa 😑

Makanya 1,5 tahun belakangan perjalananku rutin ditemani koper roda ukuran kecil yang bisa masuk kabin. Bahkan sekedar satu malam ke Cirebon, tetap koper yang salah satu isinya ya laptop dengan segala printilannya yang kubawa.

Kalau bepergian dengan keluarga seperti mudik menggunakan mobil, laptop adalah bawaan yang aku dulukan nangkring tergantung di kursi depan. Tasnya menggantung ke arah belakang.

Kalau ke acara dalam kota tidak menginap dan ada aktivitas yang mewajibkan membawa laptop, maka motorku atau motor abang Gojek adalah salah satu tumpuan harapan buat menggantung tas laptop.
Beban nyangklong laptop diserahkan ke stang motor 😆

Bisa dibilang praktis sudah 2 tahun belakangan aku minim sekali menggendong atau nyangklong tas laptop. Apapun caranya akan aku coba biar intinya tetap bawa laptop tanpa membebani tubuhku.

Kalau mepet harus ku bawa, harus seminim-minimnya. Dari parkiran motor ke dalam stasiun. Dari jalan raya tempat turun Gojek masuk ke gedung tempat acara.

Aku, Perjalanan, Laptop dan masalahnya
Tapi apakah semua menjadi beres? Melakukan perjalanan agak panjang maupun singkat dengan membawa kebutuhan tubuh dari ujung rambut ke kaki, perlengkapan kerja dari laptop yang beratnya lebih dari 1Kg beserta printilannya. Cahrger, power bank, colokan tambahan, kamera dan chargernya, kabel data dan printilan-printilan lainnya tanpa membebani pundak?
Ternyata tidak selalu. Ini pengalaman ku.

Kerempongan packing setiap akan bepergian, berkutat dengan keamanan laptop


Di salah satu counter check in Bandara Soetta.
"Ibu maaf kopernya tidak bisa dibawa ke kabin, karena beratnya melebihi kapasitas yang seharusnya. Lebih dari 7Kg, jadi harus masuk bagasi" Ucap mbak counter maskapai di Bandara Soetta saat saya check in mau berangkat ke Lampung beberapa bulan lalu untuk Arisan Ilmu Kumpulan Emak Blogger.

Dengan mata menyipit aku menatap meja counter tempat komputer data dan layar kecil yang menunjukan angka berat koper saya berada. 9,7Kg.

"Baiklah mbak, kalau begitu saya keluarkan dulu laptop saya. Laptopnya saja biar saya bawa ke kabin" serem ingat banyaknya cerita penumpang kehilangan barang berharga di bagasi. Aku keluarkan tas laptop dari koper.

Setelah tas laptop berpindah ke pundak yang sangat terasa “pundak langsung syok”, kembali aku menaikan koper ke meja putar tempat barang arah bagasi.

"Eh Ibu, kalau laptopnya tidak ada, kopernya ternyata 7Kg pas, bisa dibawa naik. Tapi laptopnya tetap bawa dalam ransel ya". Antara capek dan mau ketawa, balada laptop berat. Ya, Asus E202S ini beratnya masih lebih dari 1Kg. Belum tas laptopnya sendiri, charger, mouse yang biasanya selalu aku jadikan dalam satu tas. Biar tidak tercecer.


Lihat ini, hal yang nggak mungkin banget untuk laptopku diginiin!!!
Lihat video lengkapnya di sini
Pengalaman lainnya. Saat mudik, kota tujuan utama adalah Bojonegoro kampung halaman suami. Setelahnya kami akan keliling ke Tulungagung, Malang, Trenggalek Surabaya. Ada saat di aku dan keluarga besar suami yang kalau masuk mobil, langsung penuh depan hingga belakang.

Kalau yang belakang mau naik atau turun, kursi tengah harus dilipat dan dijungkirkan ke depan. Entah bagaimana cerita dan kejadian pastinya, yang pasti begitu sampai tujuan laptop yang aku gantung di kursi depan dan tasnya pun berlapis bahan busa tebal begitu, malam hari dibuka laptopnya blank dan lipatannya terpampang nyata agak bergeser, laptop yang tertutup itu tidak lagi simetris *kalau ingat sampai sekarang tetap sedih & kesel*

Ini ASUS Zenbook 13 UX331UAL buat mukul bolaaa dan tetap tahan banting *histeris takjup*
Tonton video lengkapnya di sini

Dugaan saat itu, laptop kejepit bangku tengah ketika dilipat dan dijungkirkan ke arah kursi depan, saat memberi jalan untuk penumpang belakang naik dan turun. Langsung histeris setengah kesal merengek ke suami.

Adegan selanjutnya justru pertengkaran tak berarti, karena suami kesal "Itukan barang kamu, perhatikan sendiri dong. Atau mentang-mentang yang naik keluargaku semua, jadi kamu marahnya ke aku". Tragedi laptop kejepit kursi dalam perjalanan Bojonegoro Surabaya musim libur lebaran 2017.

Ya, karena rencana nginapnya 2 malam di Surabaya, laptop tak mungkin ditinggal. Nyicil laporan kerjaan saat Ramadhan tetap harus jalan, biar kalau sudah balik mudik kerjaan tidak menumpuk. Bahkan terkadang aku liburnya manjang, klien sudah ngantor aku masih di kampung dan kirim laporan tetap harus jalan.

Aku juga punya kebiasaan 2-3 hari langsung memindahkan file dari memory kamera ke laptop. Karena punya memory kamera cuma satu, sedangkan kalau libur lebaran foto dan video berjejer, sekejap memory langsung full.

Hemat energi juga identik hemat biaya, buibu kalau dengar inikan pasti happy :P

Tapi pulang dari mudik, suami tetap baik hati ngasih lampu hijau buat beli baru Asus E202S, yang aku pakai 1,5 tahun ini, menggantikan laptop yang blank kejepit kursi mobil. Nggak betah mendengar rengekan istri yang kerjanya terhambat karena laptopnya blank-blank terus.

Sejak saat itu aku benar-benar parno dan teliti kalau membawa laptop bepergian. Meski masuk koper, tetap dimasukan tas laptop berbahan busa tebal dulu. Khawatir saat koper ditarik, ada guncangan yang akan berimbas ke laptop di dalamnya.

Lebih dari satu kali aku juga pernah mengalami putus tali tas laptop yang aku gantung di stang motor. Dan laptop yang masih dalam tas hampir jatuh ke aspal dalam perjalanan rumah di Warakas ke Stasiun Kota.

Meski tidak sampai jatuh, tapi jantung berdebar karena sempat oleng dan mau jatuh saat kedua kaki digunakan untuk menahan laptop agar tidak jatuh ke aspal benar-benar mampu membuat trauma saat itu.

Karenanya, urusan pekerjaan dan jalan-jalan yang mengaharuskan aku sering menenteng laptop ke mana-mana, aku punya impian (yang kudoakan setiap malam agar jadi kenyataan) punya laptop Asus ZenBook 13 UX331UAL.

Sejak informasinya seliweran di TL dan kubaca, menurutku ZenBook 13 UX331UAL adalah salah satu produk yang dihadirkan untuk menjawab “Di tengah praktis & efisiennya era moderen saat ini, dengan segala fasilitas dan kemudahannya dalam menjalani pekerjaan & minatnya pada aktivitas gaul seperti traveling masih ada sosok-sosok rempong seperti aku”.

Dengang segala peran dan tanggung jawab yang diterima, tapi masih saja belum bisa santai pada beberapa titik tertentu dalam menjalani peran tersebut. Salah satunya saat harus melakukan perjalanan jauh atau dekat, tapi masih memiliki dan memikirkan tanggung jawab laporan, proposal dan lain-lainnya.

Kemudian masih berkutat dengan memikirkan berat bawaan macam laptop yang mengancam punggung rapuhnya yang mudah lelah karena usia dan kemalasan olahraga.

ZenBook 13 UX331UAL hadir dengan spesifikasi memikat, yang paling utama menarik perhatian tentu saja ketangguhannya yang sudah berstandar military-grade MIL-STD 810G dan lolos uji daya tahan untuk memastikan kemampuannya beroperasi dalam berbagai kondisi.



Sebagai adik seorang anggota TNI, apapun yang berlabel “Telah berstandar Militer” percayalah itu pasti terbaik. Jangankan laptop, sereceh rantang, jas hujan saja awetnya minta ampun, apalagi laptop!!!

Uji cobanya di youtube Raditya Dika dan video yang direshare mbak Irien , bikin ngeri-ngeri takjub. Lapptop diinjak orang dewasa, punyaku kejepit kursi mobil yang empuk dan di dalam tas berbahan busa saja langsung blank.

Mendukung Kerja Maksimal (yang jangan sampai lupa waktu mentang-mentang batrainya lama habisnya 😆)

Sistem operasi didukung Windows Hello, yaitu cara pengoperasian baru pengguna Windows 10, di mana cukup menghadapkan wajah ke layar atau sentuhan jari di sensor fingerprint sudah langsung bisa bekerja, membuka file. Teknologi yang memfasilitasi eksis paling asyik masa kini, wajah kita sangat berharga sebagai kunci laptop sendiri *lol*

Diperkuat oleh prosesor tercepat Intel Core i generasi ke-8. Demi menopang performa tinggi yang ditawarkan, ASUS memadankan prosesor tersebut dengan RAM tercepat DDR4 2133MHz serta penyimpanan kecepatan tinggi dan handal, berbasis M.2 SSD.

Mau bikin apapun akan terasa jauh lebih mudah, cepat. Terutama yang sedang giat-giatnya belajar ngevlog, Zenbook 13 UX331UAL ini akomodir banget karena bisa langsung buka Power Director yang tersedia.

Masalah koneksi, pernah tidak saat di hotel kita merasa kode wifi yang diberikan oleh petugasnya serasa percuma karena lemot? Itu bisa jadi karena jauhnya jarak gadget atau laptop kita wifi. Di  Zenbook 13 UX331UAL ASUS memasang Wi-Fi Master yang bisa terkoneksi dengan cepat dengan jarak 65 meter lebih jauh dari laptop lainnya.

Dilengkapi keyboard backlit ukuran penuh dengan desain kokoh, memberi pengalaman mengetik yang luar biasa dalam segala kondisi pencahayaan. Kalau kata mbak Irien dalam testimoni di blognya sebagai yang pernah mencoba "Ini adalah mahakarya ergonomi, dengan jarak penekanan tombol keyboard 1,4 mm yang dioptimalkan untuk kenyamanan saat mengetik. Laptop ini juga didukung dengan teknologi palm-rejection dan mendukung gerakan multi-jari dan tulisan tangan. Pas banget deh buat bloggers zaman now!"

Dan saya adalah salah satu "blogger zaman now!" itu, semoga bisa memilikinya *Aamiinkan teman-teman* 😅

Ketahanan batrai :



Spesifikasi lengkapnya :

Main Spec.
ASUS ZenBook UX331UAL
CPU
Intel® Core™ i5-8250U Processor, 6M Cache, up to 3.40 GHz
Operating System
Windows 10 Home
Memory
8GB LPDDR3 2133MHz SDRAM
Storage
256GB SATA3 M.2 SSD
Display
13.3" (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) 60Hz, Ultra Slim 300nits
Graphics
Integrated Intel UHD Graphics 620
Input/Output
1x micro SD card, 1x audio jack COMBO, 1x Type C USB3.0 (USB3.1 GEN1), 2x Type A USB3.1 (GEN1), 1x HDMI, Support HDMI 1.4
Camera
VGA Web Camera
Connectivity
Built-in Bluetooth V4.2, Integrated 802.11 AC (2x2)
Audio
Built-in Stereo 1 W Speakers And Array Microphone, ASUS SonicMaster Technology
Support Windows 10 Cortana with Voice, Harman kardon
Battery
50 Whrs Polymer Battery
Dimension
310 x 216 x 13.9 mm (WxDxH)
Weight
985gr with Battery
Colors
Deep Dive Blue, Rose Gold
Price
Rp14.299.000
Warranty
2 tahun garansi global

Jadi ya, kalau kata aku, ASUS Zenbook 13 UX331UAL ini semacam memfasilitasi orang-orang macam aku untuk tetap bisa produktif berkarya kapanpun, di mana pun. Karena perjalanan nyaman dan aman bukan sekedar tentang "Anak muda, para pria" tapi semua orang termasuk orang rempong seperti aku.

Kapanpun, di manapun, mari tetap bisa santai jalan-jalan tanpa lupa pada tangung jawab pekerjaan bersamaASUS Zenbook 13 UX331UAL  

Perjalanan nyaman, kerjaan aman dengan pundak tetap fit tanpa beban berat laptop yang tetap wajib dibawa 😅

6 komentar:

  1. Aamin YRA
    Kalo menang saya pinjem bentaran ya mbak?
    #kedipkedip ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapp bu, klo menang ke Bandung pasti kubawa hahaha, aamiin

      Hapus
  2. wuaaaa laptop merahnya cuantiiik loooh

    tapi akan lebih cantik yang rose gold yaa, hehehe

    semoga disegerakan punya yang rose gold yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun, impian bangetlah rose gold itu, aamiin semiga dikabulkan punya <3

      Hapus
  3. Amiin... Emg masalah petentang-petenteng laptop ini ngeri2 sedap hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bangett, sudah di dalam koper pun masih tetap bikin deg2an yees :(

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...