Pages

Senin, 01 Agustus 2016

Aplikasi PRIMA, Inovasi Dari IDAI Untuk Anak Indonesia




Trio IDAI yang membidani lahirnya aplikasi PRIMA, Dr. Antonius Pudjiadi, Sp. A (K), Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K) dan DR. Dr. Aman Pulungan Sp. A (K) 



Sebagai seorang Ibu, harapan terbesar saya pada buah hati adalah tumbuh sehat, baik fisik maupun spikis. Soal nanti besar mau jadi apa, ingin kerja apa, jujur saja hidup sebagai Ibu muda di era moderen seperti saat ini cukup membuat pola pikir saya agak bergeser menjadi lebih terbuka.

Dulu saat masih remaja, membayangkan suatu saat kalau punya anak dan saat dewasa ingin dia memiliki profesi tertentu yang terlihat terpandang di mayoritas masyarakat umumnya di Indonesia. Tapi sekarang hal ini adalah nomer kesekian yang entah dalam urutan keberapa dalam pikiran saya.


Saat ini yang terpenting bagi saya adalah bagaimana mendampinginya tumbuh sehat, ceria dan berkembang secara maksimal lahir batin. Tumbuh dengan baik sesuai dengan usianya. Semaksimal mungkin memberikan apa yang dibutuhkannya dalam proses tumbuh kembang.

Saat ini, untuk mendapatkan info serta panduan tentang kesehatan dan pertumbuhan anak sangat mudah. Banyak web baik yang dibuat secara khusus oleh instansi terkait, LSM, brand-brand hingga catatan personal blog pribadi yang berbagi pengalaman dengan mudah bisa diakses menyediakan informasi panduan tumbuh kembang anak.

Ini tentu sangat memudahkan Ibu-ibu seperti saya. Ditambah dengan hobi blogging yang saya jalani, memberi saya banyak kesempatan hadir ke acara diskusi kesehatan dan pertumbuhan anak yang menghadirkan narsum langsung yang ekspert di bidangnya.

Saat ini masalah yang menjadi perhatian serius dalam perkembangan anak Indonesia adalah kasus stunting yang tinggi. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 mmencapai 37,2% (masuk 5 besar kasus stunting di dunia) dan gizi kurang dan buruk 19,6%.

Saya ribadi merasa bahwa saya adalah salah satunya, di mana pertumbuhan tubuh ke atas saya tidak maksimal, hingga saat memiliki anak seperti sekarang saya semacam bertekad kuat untuk memberikan yang terbaik agar anak saya tidak mengalami hal yang sama.

Memang masih banyak anak Indonesia yang tumbuh dalam persepsi yang salah dari lingkungannya. Seperti “Anak gemuk berarti sehat”, bahkan dianggap imut dan lucu. Padahal bisa jadi ini adalah obesitas.
Anak kurus dan kecil dianggap biasa saja, karena umurnya memang masih kecil. Nanti pasti akan tumbuh pesat secara drastis saat mengalami pubertas (kalau anak laki-laki biasanya diyakini akan tumbuh pesat setelah disunat). Padahal ini adalah persepsi yang salah. 

1000 hari pertama masa pertumbuhan dan perkembangan pesat seorang anak. Mulai dari kandungan hingga dua tahun usianya. Di mana tinggi badannya mencapai separuh dari tinggi badan akhirnya dan volume otak mencapai 80% volume otak dewasa. 

Dan bila saat 1000 hari pertama ini asah, asih dan asuhnya tepat, maka akan menghasilkan generasi sehat, tinggi, cerdas dan produktif. Namun bila tidak tepat dan terdapat gangguan tumbuh kembang yang tak tertangani secara dini dengan tepat, bisa berakibat jangka panjang pada menurunnya kualitas hidup saat dewasa.

Namun masih belum meratanya penyebaran tenaga medis sebagai pendamping orang tua dalam mengasuh buah hati, mengawal pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal, memberikan edukasi yang tepat di seluruh Indonesia dengan letak geografis yang rumit dan penuh liku menjadi kendala tersendiri. Terutama Dokter anak yang perannya sangat penting dan dibutuhkan dalam mendampingi para Ibu di Indonesia.

3700 dokter anak tidak sebanding dengan 5 juta kelahuran setiap tahunnya. Meski sekali lagi, bukan berarti tanggung jawab tumbuh kembang anak tergantung sepenuhnya pada dokter dan tenaga medis lainnya, karena peran besar dan utama tetap ada di tangan orang tua. Namun tak bisa dipungkiri pendampingan yang tepat dokter dan tenaga medis lain berperan sangat penting.

Hal inilah yang mendasari IDAI berinovasi sesuai dengan era kekinian, memikirkan sebuah solusi untuk memperbaiki status gizi anak Indonesia yang didasari rasa tanggung jawab profesi. Profesi yang terkait langsung dengan “kemanusiaan”. Bahwa dokter sebenarnya bukan hanya tentang “Menunggu pasien, memeriksa dan memberi resep saat pasien sakit saja”. Tapi lebih dari itu, memiki rasa tanggung jawab kemanusiaan yang jjauh lebih luas.

Dan inovasi ini bernama Aplikasi PRIMA. Di era digital, era tanpa batas yang merubuhkan sekat ruang dan waktu, era yang menghubungkan banyak koneksi satu sama lain, IDAI ikut masuk ke dalamnya untuk menjawab tantangan dengan membidani lahirnya Aplikasi PRIMA.

Jujur saja, di tengah hebohnya berita vaksin palsu yang di antara tersangka ada yang  berprofesi dokter, tentu berita ini sangat melegakan. Bahwa di antara dokter yang “tidak bertanggung jawab” masih jauh lebih banyak “Dokter yang teguh dengan janji profesinya”.

Dilaunching secara resmi bertepatan dengan hari anak Nasional pada 23 Juli 2016, bertempat di Gedung Pusat Kesehatan Ibu Anak Kiara RSCM, IDAI resmi melaunching Aplikasi PRIMA untuk orang tua dalam rangkaian seminar “Bincang Santai – Seribu Hari Pertama Kehidupan Optimal, Masa Depan Anak Indonesia Cemerlang”.

Bersama tiga Dokter yang membidani lahirnya Aplikasi PRIMA, Dr. Antonius Pudjiadi, Sp. A (K), Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K) dan DR. Dr. Aman Pulungan Sp. A (K) 

Apa sih Aplikasi PRIMA?


Yaitu aplikasi pantau tumbuh kembang anak yang bisa digunakan oleh dokter (profesional) dan Orang tua. Berisi jadwal imunisasi beserta infonya, kapan imunisasi baiknya dilakukan. Dan berdasarkan tabel yang tersedia, sebenarnya hingga usia 18 tahun jadwal imunisasi masih terus berjalan.

Menu Aplikasi PRIMA untuk Orang Tua


Grafik pertumbuhan anak yang standart optimalnya disesuaikan dengan standart WHO dan CDC. Panduan memantau perkembangan buah hati, apakah sudah sesuai berat badannya dengan usianya. Apakah sudah sesuai tinggi badannya dengan usianya.

Tahap perkembangan anak yang mencakup “Tahapan dan tanda bahaya perkembangan” untuk anak hingga usia 6 tahun dan “Stimulasi Perkembangan” untuk anak hingga 18 bulan. Untuk mendeteksi dini kemungkinan adanya hambatan perkembangan anak.

Menu dalam Aplikasi PRIMA

Kuisioner kunjungan ke dokter, baik sebelum maupun sesudah. Materi edukasi untuk orang tua yang bisa dipilih sesuai usia buah hati hingga usia 18 tahun.

Dan terkahir adalah “Skrining” yang terbagi dua yaitu “Skrining Medis” yang berisi pertanyaan “Skrining utama” untuk anak hingga usia 18 tahun. dan “Kuisioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)” untuk anak hingga 6 tahun (72 bulan).

Saat saya memasukan data Alisha
Dibawa ke "Contoh kasus yang bahasanya rumit" lebih baik dihilangkan saja dan langsung "result" :)

Hasil analisa sederhana kurva pertumbuhan Alisha


Dari semua menu yang ada di Aplikasi PRIMA terdapat tools share yang bisa untuk menyimpan data dalam bentuk PDF ke stronge, drive atau dikirim langsung via email. Ini bisa digunakan untuk konsultasi orang tua ke dokter anak atau tenaga medis lain terdekat. 

Saat pemeriksaan, Dokter pengguna aplikasi PRIMA akan mengirimkan kode unik pasien yang dihasilkan oleh aplikasi  melalui email yang mana kode unik ini dapat digunakan oleh pasien untuk kunjungan berikutnya. 

Kode unik ini untuk memunculkan data grafik Pertumbuhan WHO & CDC dan Milenstone and Redflags. Kode ini dibuat karena tenaga kesehatan profesional tidak diperkenankan menyimpan data pasien. 

Skrining Utama, tapi masih belum tersedia Skrining masa kehamilan, klik email dapat menyimpan data di web stronge atau langsung kirim data ke alamat email lain.


Jadi pada mulanya aplikasi ini asalnya hanya dibuat untuk para dokter. Seiring waktu berjalan sebagaimana yang dijelaskan oleh Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR. Dr. Aman Pulungan, Sp.A (K), IDAI ingin masyarakat ikut menggunakan dan merasakan manfaat dari aplikasi ini. Dan dibuatlah versi untuk orang tua.

Karena dibidani oleh dokter Indonesia, maka dibuat dengan sangat khas Indonesia yang mana background dari palikasi ini  adalah Batik Sido Luhur yang mengandung filosofi “Agar berhati dan berfikir luhur”. Yang mana program ini merupakan Program IDAI Untuk Membangun Anak Indonesia. Membantu tercapainya tujuan menghasilkan generasi muda tumbuh berkualitas. Karena masa depan bangsa ada di tangan mereka sebagai mana yang disampaikan oleh Dr. Antonius Pudjiadi, Sp. A (K).


Dalam kesempatan launching kali ini, Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K) MPH mengajak undangan yang hadir di launching demo cara menimbang dan mengukur anak yang tepat dan memasukan data ke aplikasi PRIMA.

Dan dari diskusi tanya jawab berlangsung, didapat beberapa masukan dan kesimpulan :

IDAI menerima semua masukan dari semua pihak untuk pengembangan aplikasi ini ke depan. Pada dasarnya aplikasi ini akan terus dikembangkan untuk memenuhi standart dan kebutuhan masyarakat dan dokter sendiri. Mulai pengembangan database yang memang harus terus dikembangkan secara maksimal untuk menampung data.

Pengembangan tools dan fungsi, banyak harapan ke depan aplikasi ini bukan sekedar alat pantau dan deteksi dini gangguan perkembangan pada anak secara sederhana, tapi juga deteksi kelainan lebih dalam, seperti anak berkebutuhan khusus seperti kecenderungan menderita Autisme.

Diharapkan bisa jadi P3K digital anak, menyimpan data vaksinasi anak, menjadi penyimpan rekam medis untuk anak yang bisa digubakan di mana pun dan kapan pun. Meski pindah domisili.

Ya, saya salah satu orang tua yang pernah mengalami kesulitan saat anak sakit dan harus diopname di sebuah Rumah Sakit. Namun saat memutuskan stay sementara di kota lain, saya cukup bingung menjelaskan detail ke dokter di kota setempat, saat anak sakit lagi. Tidak memungkinkan untuk saya meminta catatan medis lengkap di RS tempat anak saya dulu dirawat saat masih bayi.

Tentu banyak harapan ke depan untuk perkembangan Aplikasi PRIMA, bahkan Dr. Bernie sendiri mengatakan bahwa Aplikasi PRIMA akan akan dikembangkan sebagai Buku KIA digital dan sudah direstui oleh pemerintah.


Materi edukasi orang tua, untuk usia anak anak saya, 7-8 tahun


Dan karena keterbatasan waktu saat launching, saya akan menyampaikan pendapat pribadi saya tentang Aplikasi PRIMA yang semoga bisa menjadi masukan untuk IDAI.

  • Aplikasi ini menurut saya masih sangat segmented penggunanya, masih sulit menjangkau masyarakat kalangan bawah. Dengan size aplikasi yang sangat besar, 56 MB – 64 MB yang mana membutuhkan smartphone dengan ruang penyimpanan yang cukup besar. Di era serba aplikasi, persaingan size terkadang jadi pertimbangan pengguna smartphone untuk tetap mempertahankan sebuah aplikasi atau tidak.
  • Aplikasi dengan size besar tapi penggunaannya tidak signinfikan setiap hari biasanya akan sangat mudah di “copot pemasangan” oleh pengguna smartphone. Dan mayoritas kalangan menegah atas yang memiliki smartphone dengan high spek yang akan bisa menggunakannya dengan maksimal, karena tidak terganggu dengan notofikasi “Memory penuh, pilih salah satu file/aplikasi untuk dihapus”.
  • Dengan harus menggunakan akses internet penggunaannya, tentu kendala utama yang harus ditaklukan adalah masih tidak meratanya sinyal internet yang stabil di seluruh Indonesia. Oke untuk kota-kota besar, tapi kurang maksimal di daerah kecil dan agak pelosok.
  • Dengan selalu menggunakan sambungan internet, kendala lain adalah masih belum meratanya penggunaan internet. Untuk kota besar seperti Jabodetabek dan kotakota besar lain di Indonesia yang mayoritas Ibu-ibu mudanya sudah familyar dengan internet dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak masalah.
  • Tapi masalah tumbuh kembang anak justru menurut saya banyak dialami oleh masyarakat yang tidak begitu familyar dengan internet yang mayoritas domisilinya jauh dari perkotaan. Sebagai contoh di kalangan keluarga saya di salah satu kabupaten kecil di Jawa Timur, internet masih merupakan barang mewah. Daripada harus membeli paket internet mereka lebih suka memilih memilih menyimpan Rp 50 ribu untuk keperluan lain yang dianggap jauh lebih penting.
  • Padahal masalah gangguan gizi baik yang buruk, kurang maupun kelebihan hingga obesitas paling banyak dialami golongan ini. Yang mana hidup di tengah tradisi “Minim info dan edukasi” hingga dipenuhi dengan banyak kitos mulai dati hamil hingga melahirkan dan membesarkan buah hati.

Bahkan mayoritas mereka tidak ribet memikirkan anak kurus, asal masih kuat lari dan bermain tidak akan ada namanya konsultasi ke tenaga medis. Beda dengan Ibu-ibu di perkotaan, yang bahkan tanpa aplikasi pun, saat buah hatinya terlihat tidak naik berat badannya beberapa bulan, akan sibuk konsultasi sana-sini. Nomer telpon dokter anak akan masuk dalam salah satu daftar panggilan cepat.

Untuk isi dan menu saat ini, jujur masih banyak yang menurut saya kurang simpel bahasanya. Terutama bagian lanjutan dari grafik. Padahal kurva pertumbuhan adalah yang paling diunggulkan dalam aplikasi ini sebagai salah satu deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak. 

Karena tidak semua orang mudah paham dengan cepat kalimat yang agak teknikal seperti yang tergambar di atas. Saya ingat saat anak saya kecil dan sakit, saya bawa ke sebuah Puskesmas Kecamatan. Di sini saya diberi tabel simple angka optimal tumbuh kembang anak dalam bentuk tabel.

Di mana angka menunjukan usia dan berat yang pas untuk usia tertentu, bahwa usia 12 bulan berat ideal antara sekian sampai sekian. Tinggi badan yang ideal sekian hingga sekian. Sangat simpel. Tapi dalam keterangan di Aplikasi PRIMA menurut saya sangat tidak simple. Dilarikan ke tools “Contoh Kasus” yang bagian bawahnya baru nyempil "result" dengan kalimat pendek yang dilarikan ke tabel "Interpretasi".

Jujur saya sempat siwer mencari makna tabel dan resulnya. Nguprek berjam-jam baru ngeh kalau resultnya dibagian bawah laman "Contoh kasus".

Menurut saya lebih baik langsung tools “Result” yang memberikan gambaran singkat kondisi anak berdasarkan data yang disubmit orang tua. Apakah beratnya ideal atau tidak dengan usianya saat ini berdasarkan data yang disubmit Ibunya. Dengan result yang muncul juga dibarengi rekomendasi apakah butuh konsultasi ke dokter anak atau tidak dengan kondisi ini

Selebihnya saya sangat mengapresiasi dilaunchingnya Aplikasi ini, apalagi bila nanti berkembang lebih komplit dan lengkap dengan fungsi sebagai rekam medis anak, Buku KIA digital, tentu akan menjadi pilihan terbaik dan terpercaya para Ibu dan orang tua di Indonesia. Karena pengembang adalah vendor terpercaya, IDAI. Yang sangat bisa dipertanggungjawabkan semua isinya.

Karena untuk daftar ke Aplikasi PRIMA sendiri pengguna harus memasukan nomer telpon dan tanggal lahir lengkap yang menurut saya sebenarnya sangat privacy. Tapi tentu IDAI tidak diragukan kredibiltasnya. Sehingga akan bisa dengan cepat diatasi seandainya ada oknum yang tidak bertanggung jawab di dalamnya.

Untuk sahabat blogger dan semua pembaca, jangan lupa terus update perkembangan Aplikasi PRIMA melalui chanel sosmed IDAI di Twitter @idai_tweets, IG @idai_ig dan FP Ikatan Dokter Anak Indonesia.

7 komentar:

  1. Keren bangeeet, mak, suka sama tulisannya,detil

    BalasHapus
  2. Keren bangeeet, mak, suka sama tulisannya,detil

    BalasHapus
  3. Nah iya, masalah grafik itu jadi concern aku juga, resultnya agak membingungkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa, mudahan perbaikan terus menerus ke depan bisa lebih diperhatikan yak mak

      Hapus
  4. Masya allah, ngeliat review aplikasi ini. Keinget buku yang biasanya dibawa ibu-ibu kalo ke Puskesmas itu. Buku untuk merecord tumbuh kembang si balita. Zaman serba digital ya, sekarang bahkan sudah ada aplikaisnya.
    Tfs mak, bermanfaat sekali ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak, eta terus berevolusi dan berinovasi

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...